Kalau cuma ngeliat ujungnya memang nyesek. Pikiran “Coba aku gini, coba aku gitu” masih sering menggema. Tapi kalau inget perjalanan dari titik sampai jadi garis, bener-bener kerasa indahnya. Bersama mereka yang sama-sama gak kenal cape untuk mengejar jodohnya masing-masing. Saking padatnya kegiatan kami, bahkan gak punya waktu untuk capek maupun berhenti. Kalo kank Aom bilangnya “setan belajar”, saya bilangnya “jablay ilmu”. Tiap malam digilir sana-sini pindah rumah untuk meminimalisir kekopongan otak yang kabarnya makin tua makin kopong ini. Yah, walau ujungnya skenario saya bukanlah skenario-Nya, saya gak pernah menyesal atas waktu yang pernah saya buang menjadi salah satu fujinkai ilmu. Rasanya pengen mengulang 10 bulan ke belakang, bukan untuk mengubah akhirnya, tapi untuk merasakan kembali sakit dan nikmatnya banting tulang bersama mereka. Gak pernah seagresif ini untuk mengejar sesuatu, dan baru pernah nemuin orang-orang yang sama agresifnya, bahkan lebih. Ah, time.